
Palembang, 27–31 Oktober 2025 — Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya (STTS) mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pelaksanaan Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi di Indonesia (KNMTI) 2025, sebuah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh PERSETIA (Persekutuan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia).
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini diikuti oleh 68 mahasiswa dari berbagai sekolah teologi anggota dan calon anggota PERSETIA. Tahun ini, tema yang diangkat: “Pastoral Care and Counseling in the Disruptive Era” — menjadi refleksi mendalam bagi para calon pelayan Tuhan untuk menjawab tantangan pelayanan di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang cepat.
Acara pembukaan KNMTI dilaksanakan pada 27 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan HUT ke-62 PERSETIA. Momen penuh sukacita tersebut ditandai dengan peniupan lilin dan pembagian kue ulang tahun sebagai simbol kebersamaan seluruh peserta dan panitia.
Selama kegiatan, peserta dibekali dengan berbagai pemikiran dan pendekatan baru dalam pelayanan pastoral melalui sesi bersama para narasumber: Pdt. Indah Sriulina, M.Th., M.A., Pdt. Dr. Apolos Dwi Kristantyo, dan Pdt. Obertina M. Johanis, M.Th. Materi yang dibawakan mencakup pemahaman teologis dan respons kontekstual gereja masa kini, pendekatan konseling di era digital, serta pentingnya membangun resiliensi spiritual dalam menghadapi perubahan zaman. Sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual, peserta turut melakukan kunjungan pelayanan ke Panti Wredha Sumarah Palembang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar langsung tentang praktik pendampingan dan pelayanan kasih kepada para lanjut usia. Di sela kegiatan, peserta juga diajak menikmati keindahan Jembatan Ampera, ikon kebanggaan kota Palembang, sebagai bentuk rekreasi dan kebersamaan.
Dalam sambutannya, Ketua STT Sriwijaya, Pdt. Dr. Agus Kriswanto, M.Th., menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan oleh PERSETIA kepada STTS sebagai tuan rumah. Beliau menekankan bahwa tema KNMTI kali ini sangat relevan dengan pergumulan gereja masa kini.
“Kita hidup di era disrupsi — suatu zaman di mana perubahan terjadi begitu cepat, pola komunikasi manusia berubah drastis, dan cara kita memahami kehidupan spiritual pun tidak lagi sama seperti sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, pelayanan pastoral tidak cukup lagi hanya dilakukan secara konvensional, melainkan perlu adanya kepekaan baru, pendekatan lintas-disiplin, dan pemahaman mendalam tentang dinamika manusia di tengah perubahan zaman,” ujarnya.
Beliau juga menegaskan bahwa pelayanan pastoral di era disrupsi adalah panggilan untuk menghadirkan inkarnasi kasih Allah di tengah realitas yang cair dan sering kali tanpa arah. “Ini adalah panggilan untuk mendengarkan lebih dalam, bukan hanya telinga terhadap kata-kata, tetapi hati terhadap pergumulan eksistensial manusia masa kini,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ketua STT Sriwijaya menekankan peran penting mahasiswa teologi sebagai generasi pelayan Tuhan yang akan hidup di zaman yang jauh berbeda dari generasi pendahulu. Karena itu, KNMTI menjadi ruang refleksi bersama untuk menemukan bentuk pelayanan yang relevan, empatik, dan kontekstual.
Beliau menutup sambutan dengan ungkapan harapan,
“Selamat berkonsultasi, selamat berproses, dan biarlah Roh Kudus menuntun kita untuk menemukan kembali makna pelayanan pastoral yang sejati di era disrupsi ini.”
STT Sriwijaya juga menyampaikan terima kasih kepada PERSETIA, para narasumber, sekolah pengutus, peserta, serta seluruh panitia yang telah bekerja keras demi terselenggaranya kegiatan ini dengan baik. Melalui KNMTI 2025, STT Sriwijaya menegaskan kembali komitmennya untuk menjadi tempat pembentukan pelayan Kristus yang berpikir kritis, berjiwa gembala, berteologi yang membumi, dan siap menghadapi dinamika pelayanan di era disrupsi.
